Ritual Remah Tanah Dalam Tradisi Orang Dayak - Voice of Borneo

Hot

Post Top Ad

Your Ad Spot

Selasa, 07 November 2017

Ritual Remah Tanah Dalam Tradisi Orang Dayak

Persembahan Bagi Para Leluhur dan Penunggu Tempat.

Ritual Remah Tanah Dalam Tradisi Orang Dayak


Dalam tradisi orang Dayak di pulau Borneo, upacara adat dalam bentuk ritual kepada para leluhur dan penunggu tempat adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang hidup dan menetap di pulau Kalimatan atau biasa juga di kenal dengan pulau Borneo.

salah ritual yang biasa dilaksanakan adalah ritual remah tanah, dalam pelaksanaannya remah tanah dimaksudkan untuk meminta izin kepada para leluhur dan para penunggu tempat yang ada di suatu kawasan atau wilayah, ketika manusia akan memanfaatkan dan mengelola tanah tersebut untuk kepentingannya, agar tidak terjadi bala bencana dan musibah kepada mereka saat dilakukan aktifitas pemanfaatan atas tanah, hutan dan sumber daya alam lainnya.

Ritual Remah Tanah Dalam Tradisi Orang DayakPara Leluhur dan Penunggu Tanah melalui ritual akan di panggil dan di sapa melalui lantunan syair doa oleh seorang tukang pomang (red.pembaca mantera), melalui syair-syair doa yang ditujukan langsung dengan kepada mereka, disampaikan permohonan izin untuk dapat memanfaatkan dan mengelola daerah tersebut sehingga mereka tidak akan marah dan mengutuk kegiatan yang akan di langsungkan.

apakah prosesi remah tanah ini bersifat wajib, dapat dikatakan ini merupakan kegiatan yang bersifat wajib bagi masyarakat adat dayak di pulau borneo, mengingat bahwa orang dayak sangat percaya bahwa para leluhur dan penunggu tanah telah menguasai segala sumber daya alam tersebut dari jaman dahulu kala, dan manusia yang ada hanya sekedar menumpang dan baru tiba, sehingga haruslah meminta izin, dengan prinsif dimana bumi di pijak di situ langit di junjung, begitulah orang dayak berfalsafah.

dalam tradisi lainnya, remah tanah di lakukan pada saat akan melakukan aktifitas dan di lanjutkan dengan melakukan puasa atau pantangan selama 3 (tiga) hari berturut-turut, dengan di fasilitasi oleh seorang pemegang pantangan untuk mematuhi segala ketentuan yang sudah di tetapkan, seperti tidak boleh memetik tanaman hidup di lingkungan rumah, tidak boleh membunuh binatang berdarah panas, dll.

dalam proses upacara remah, tukang pomang akan membacakan manteranya di atas altar persembahan yang terdiri dari sesajen yang telah di persiapkan sebelumnya, dengan harapan sesajen yang di serahkan akan menjadi syarat untuk memanfaatkan tanah seperti ketika akan membuka jalan dalam sebuah proyek jalan, terhadap jalan baru tersebut akan dilakukan upacara ritual remah tanah.

setelah remah tanah tersebut dilakukan dan dilakukan pantangan selama 3 (tiga) hari, barulah pihak-pihak yang akan memanfaatkan dan mengelola dapat melakukan aktifitas selanjutnya, tanpa rasa takut untuk celaka dan menjadi korban, kepercayaan ini berlangsung selama turun temurun dan sudah menjadi adat istiadat dan budaya masyarakat Dayak.

pertanyaannya apakah, tradisi ini dapat kita temukan di semua tempat di pulau borneo....?, untuk beberapa masyarakat dayak yang sudah hidup di perkotaan ada sebagian kecil yang sudah meninggalkan budaya ini, tetapi masyarakat dayak yang hidup di kampung-kampung cenderung masih memegang teguh tradisi ini.

untuk itu, perlu diketahui bahwa tradisi remah tanah bukanlah tradisi yang menghilangkan agama, namun merupakan syarat mutlak penghormatan terhadap alam yang juga di percaya memiliki jiwa, tanah adalah ibu bagi masyarakat adat dayak di Kalimantan atau pulau Borneo.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot