Cakrawala di Bandara Internasional Supadio Pontianak - Voice of Borneo

Hot

Post Top Ad

Your Ad Spot

Selasa, 21 November 2017

Cakrawala di Bandara Internasional Supadio Pontianak

Antara kebanggaan dan keniscayaan



Bandar Udara Supadio begitu orang mengenal nama yang asing untuk dikenang, siapa gerangan dan dari mana nama itu diambil, tidak ada penjelasan singkat yang dapat jadikan literasi, memang sekilas nama sebuah tempat sekelas bandara pasti mengandung sebuah maksud dan monumental seperti Bandara Soekarno Hatta di Tanggerang Banten, yang menjadi salah satu pintu masuk ke Ibu Kota Negara Indonesia selain di Halim Perdana Kusuma di Jakarta Selatan.

Bandara Supadio telah menjelma menjadi salah satu Bandara terpadat di Indonesia dengan data yang baru di rilis oleh Angkasa Pura II, mencapai 1 juta orang dalam satu tahun, dengan daya tampung per harinya lebih dari dua ribu orang, bisa di bayangkan saja kalkulasi untuk Lion Air yang melayani 7 kali, Sriwijaya Air 6 kali, belum maskapai lainnya, pertanyaannya adalah ada apa dengan Supadio...?

hal ini tidak terlepas peranan dari adanya 3 basis penerbangan terusan yang menghubungkan antara Supadio dengan bandara perintis seperti Sintang, Kapuas Hulu dan Ketapang, posisinya yang strategis menjadikan Supadio layak di nobatkan sebagai salah satu bandara tersibuk di Indonesia.

Bandara Supadio Pontianak

Pembangunan Bandara ini dimulai dari tahun 2014 dengan mulai di renovasinya konstruksi Bangunan dan landasan pacu atau run way sehingga beberapa jenis pesawat berkelas boeing 737 900ER dapat dengan mudah untuk mendarat, hal ini sudah barang tentu menjadi standar bandara berkelas internasional.

untuk bentuk bangunan setelah di renovasi memang sedikit menjadi perdebatan di kalangan masyarakat di Kalimantan Barat, hal ini melihat entitas budaya dan suku bangsa yang dominan di kalbar begitu orang menyingkat salah satu provinsi di sisi barat pulau kalimantan atau borneo ini. 

orang dayak dan melayu adalah dua suku bangsa yang dominan di kalbar, sehingga beberapa pendapat menyatakan kenapa bangunan ini tidak meninggalkan identitas kedua suku bangsa agar ada pengakuan akan dominasi keduanya di bandara supadio, memang warna kuning untuk melayi dan merah untuk dayak tidak tampak jelas, namun ada beberapa motif keduanya di gabungkan di sudut dan etalase ruangan, tidak seperti di Bandara minangkabau di Padang dan Ngurah rai di Denpasar Bali.

namun cakrawala kalbar tetaplah kalbar, dimana pluralisme menjadi sebuah junjungan, dengan tidak terlalu menonjolkan entitas suku bangsa bagi daerah yang sedikit rentan paska kerusuhan berbau sara berlandaskan suku, perlu untuk menjaga rasa sensitifitas, sehingga tidak perlu menjadi perdebatan yang di politisasi.

pembangunan pariwisata berlandaskan kebudayaan lokal menjadi sangat strategis di zaman now, dimana generasi milenial telah memasuki babak baru dalam mengelola iklim investasi dan perkembangan ekonomi termasuk di kalbar, dimana peluang tersebut jika mereka lambat sedikit saja maka akan ketinggalan, termasuk bisnis traveling yang sudah menjamur di pulau borneo ini.

contoh saja, bahwa sudah banyak jasa perjalanan lokal di kalimantan barat ini, yang di inisiasi oleh anak muda berangkat dengan modal seadanya, namun masih perlu pengalaman dan dukungan dari pemerintah daerah setempat, contoh ketika SMA St.Paulus Pontianak menerima kunjungan dari murid senior high school Amerika Serikat, sedikit kesulitan untuk merekomendasikan lokasi wisata yang favorit di Kalbar.

kenapa sulit, karena kawasan wisatanya belum dikelola secara maksimal dan tematis, belum lagi terkendala dengan sarana dan infrastruktur pendukung seperti hotel dan kuliner andalannya, inilah yang menjadi pekerjaan rumah selanjutnya.

langit supadio selalu cerah, namun hujan juga menjadi saat yang selalu di waspadai untuk daerah tropis di Indonesia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot